Anak yang Bakti, Tak Berbatas pada Umur Orang Tua

Ada tiga kewajiban anak terhadap orang tua setelah wafatnya;
1. bayarkan hutangnya jika ada, 2. jalin hubungan dengan sahabat dan keluarganya, dan 3. mendoakannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa jarang ada anak yang ‘tahan lama’ berbakti kepada orang tuanya setelah orang tuanya wafat.

Kata seorang kawan, paling banter cuma sampai 40 hari setelah kematian anak-anak akan ingat orang tuanya.

Setelah itu, lepas, seperti tidak pernah ada orang tua dalam kehidupannya.

Sementara kawan yang lain lagi berkata, diziarahi pun paling satu dua tahun saja setelah kematian.

Setelah itu, jangankan ditengok kuburannya, dikirimkan Fatihah (dibacakan doa) pun tidak.

Anak yang bakti, tak berbatas pada umur orang tua.
Setelah lepas pun seharusnya tetap berkhidmat.
Kata Rasul, khidmatnya anak kepada orang tua yang sudah meninggal itu ada tiga :
1. bayarkan hutangnya jika ada,
2. jalin hubungan dengan sahabat dan keluarga orang tua,
3. dan mendoakannya.

Dan ini adalah bakti yang harusnya tidak berhenti hanya pada hitungan 7 hari, 40 hari, seratus hari, satu dan dua tahun saja.
Selamanya, sepanjang sisa hidup kita.

Meskipun semua berasal dari Tuhan,
kita sama tahu, tanpa adanya orang tua, kita tidak akan lahir ke dunia ini.
Sebab orang tua lah kita menjadi ada.
Masa kemudian kita melupakannya?

Apalagi bila kita mengingat perihnya mereka, deritanya mereka,
ketika kita masih dalam kandungan, ketika kita masih kecil, dan seterusnya.

Patut diperhatikan juga ungkapan berikut ini, sebagaimana perlakuan kita terhadap orang tua kita, begitu jugalah kelak kita akan diperlakukan oleh anak kita kelak.
Coba-coba saja durhaka kepada orang tua, maka kita akan didurhakai anak kita kelak. Mau?
Sebagaimana perlakuan kita kepada orang tua, begitu juga kelak kita akan diperlakukan.

YA ALLAH, Engkaulah yang maha pengasih dan maha panyayang, Engkaulah yang maha pengampun, maka kami mohon kasihanilah kedua orangtua kami sebagaimana mereka mengasihani kami diwaktu kami kecil, dan ampunilah segala dosa-dosa kedua orangtua kami YA ALLAH, amin

orangtua-kita.blogspot.com
by yusufmansur.com

Surga di Telapak Kaki Ibu


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ingatkah, sebelum kau dikandung,
seorang ibu sdh mengiginkan kau ada...

saat kamu di dalam kandungan,
seorang ibu sudah mulai menyayangimu...

sebelum kau keluar dari kandungan,
seorang ibu rela mati untukmu...

dan akhirnya kamu pun menangis
hari demi hari di lalui dengan penuh tangis....

dan saat kamu tertidur
mimpimu sangatlah indah

dan ingatkah saat kamu terbangun?

hanya seorang ibu yang selalu disisimu...

harus kau ingat,
saat kau sedang ingin berjalan,
kau selalu terjatuh,
apakah kamu ingat? seorang ibu yang selalu
membangunkan mu...

sadarkah?

saat ibumu berkata dengan keras,
kamu balas jauh lebih keras.

kamu juga pernah menutup pintu
dengan keras, tahukah kamu?
saat itu ibumu sangat merasa bersalah,

hingga kamu dewasa...

saat ia menyuruhmu,
kamu selalu mengatakan "males akh"

saat ia mengajakmu untuk pergi, kamu menolaknya
karena kamu lebih memilih pergi dengan temanmu...

saat kamu dibelikan pakaian
kamu pun menolak dan berkata : "pakaian apa'an nih, akh norak"


ingatkah kamu?
saat kamu ingin pergi
kamu selalu meminta uang
jika tidak di kasih kamu selalu
mengatakan " pelit amat sih sama anak sendiri"

dan saat kamu jalan dengan temanmu
seorang ibu melarang pakaianmu karena tidak sopan
dan kamu langsung menjawab " ini lagi ngetren kaliii... "

saat kamu jalan ke mall, ia menelponmu
katanya jangan terlalu malam mainnya,
kamu hanya menjawab
"iya nanti, ini juga baru nongkrong maa..."

dan saat kamu sampai rumah
ia tidak tidur melainkan menunggumu...
sambil berpura-pura menonton tv,

padahal dia khawatir denganmu
dia ingin memastikan kamu baik-baik saja

ia selalu memikirkanmu...

dan sekarang...
apakah kamu selalu memikirkan dia?

apa pernah kita memikirkan perasaan dia?

suatu ketika, hari saat dia memarah-marahimu
kamu tidak takut, bahkan kamu tidak peduli...

hingga kini kamu sudah dewasa,
kamu sudah berani memarahi ibumu...
dan akhirnya ia menangis,
ia merasa sangat bersalah...

apakah seperti itu cara mu berterima kasih atas selama ini?

seorang ibu pun melakukan kesalahan
ia selalu membohongimu dan dirinya sendiri...

ketika malam kamu terbangun dari tidur
dan kamu melihat ia menangis,                              

saat kamu bertanya "ibu kenapa?"

dia hanya menjawab "tidak apa-apa nak"

seorang ibu telah berbohong
dia memikirkan kebahagiaanmu
dan memikirkan nasibmu...
dia memikirkan masa depanmu...

itulah keajaiban kasih sayang seorang ibu...

seorang ibu,
selalu akan mendoakan walau kamu
sudah membuatnya menangis...

tapi mengapa seorang ibu selalu mengalah padamu...
tapi kenapa seorang ibu selalu memaafkanmu...

berterima kasihlah pada ibumu yang telah
menghidupkanmu dengan izin Allah
untuk hidup bersamanya...

bahkan dia yang mengirimmu kedunia yang indah ini...

ibu aku sayang padamu
hanya kata itu yang membuat hidup ia tenang,

dan bisa membuatnya tetap tersenyum...

senyummu adalah kekuatan untuknya bertahan hidup
tolong jangan kau sakiti hatinya lagi...

dia sudah tua, ia menginginkan kebahagiaan
ia sudah mulai sering sakit
apakah kamu ada disisinya?

taukah kamu, hanya melihatmu tersenyum
ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa...

jangan pernah pergi jauh dari ibumu...

ingatkah kamu disaat kamu kecil
jerih payahnya membersarkanmu penuh dengan cobaan...

dan apakah setiap hari bahagiamu
kamu memikirkan kebahagiaan ia di rumah yang sedang sakit?


coba kamu banyangkan jika itu adalah senyum terakhir dia yang kamu dapat...

berterima kasihlah atas kasih sayang
yang dia berikan dari kecil hingga sekarang...

mungkin kita sekarang bukanlah siapa-siapa
tapi berjanjilah akan mewujudkan kebahagiaannya...

karena melihatnya bahagia jauh membuat kebahagiaan kita sendiri

apakah kamu sudah siap jika Allah memanggilnya?
dan kamu belum sempat meminta maaf kepada ibu mu...

karena cepat atau lambat kita akan
meninggalkan dunia
dan disini adalah tempat kita semua beristirahat...

hidup ini hanya sekali
hidup ini akan berharga jika
kita tetap melihat orang yang melahirkan kita...

sangat indah hari-hari dengan sinar senyumnya....
canda tawanya tidak akan terlupakan...
tapi cepat atau lambat kita akan
kehilangan itu semua...

karena kita akan kembali kepada sang maha kuasa...

suatu ketika kamu duduk berdampingan dengan ibumu
dan ia bertanya, itu hewan apa?

dan kamu menjawab "ayam'

ibumu bertanya lagi,
kalau yang makan sebelah sana hewan apa?

kamu menjawab kedua kalinya dengan malas "ayam..."

ibumu bertanya kembali yang gerombolan dengan anak-anaknya itu hewan apa?

dengan membentak kamu menjawab " ITU AYAM !!!"

seketika ibumu menangis ia mengingat saat kamu kecil,
kamu selalu bertanya berulang ulang kali
tapi ibumu hanya bertanya 3 kali dan kamu sudah membentaknya

dan untuk sekarang jagalah seorang ibu...  
karena kita akan kehilangan ridhonya
yaitu surga di telapak kaki ibu...


"Jangan hanya terharu sesaat, tetapi bergeraklah jika ibumu dekat denganmu, telpon/sms jika dia jauh darimu dan ucapkan " IBU AKU SAYANG PADAMU... "

Apa Yang Kita Tahu Tentang Seorang Ayah?


APA YANG KITA TAHU TENTANG SEORANG AYAH?




Mungkin ibu lebih kerap menelepon untuk menanyakan keadaan kita setiap hari... Tapi tahukah kita, sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelepon kita?

Semasa kecil, ibu lah yang lebih sering mendukung kita... Tapi tahukah kita bahwa sebalik ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah selalu menanyakan apa yang kita lakukan seharian

Saat kita sakit @demam, ayah sering membentak "sudah diberitahu! jangan minum yang manis!". Tapi tahukah kamu bahwa ayah sangat risau.??

Ketika kita remaja, kita meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata "tidak boleh!".. Sadarkah kita bahwa ayah hanya ingin menjaga kita? Karena bagi ayah, kita adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat kita sudah di percayai, ayah pun melonggarkan peraturannya. Maka kita telah melanggar kepercayaannya... Maka ayah lah yang setia menunggu kita di ruang tamu dengan rasa sangat risau..

Setelah kita dewasa, ayah telah mengantar kita ke sekolah untuk belajar...
Di saat kita memerlukan ini-itu, untuk keperluan kuliah kita, ayah hanya mengerutkan dahi tanpa menolak, beliau memenuhinya... Saat kamu berjaya... Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu.. Ayah akan tersenyum dengan bangga...

Sampai ketika jodoh kita telah datang dan meminta izin untuk mengambil kita dari ayah... Ayah sangat berhati-hati mengizinkan nya... Dan akhirnya... Saat ayah melihat kita duduk di atas pelaminan bersama pasangan nya... ayah pun tersenyum bahagia...

Apa kita tahu,bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis?

Ayah menangis karena ayah sangat bahagia... Dan dia pun berdoa "Ya Tuhan, tugasku telah selesai dengan baik... Bahagiakan lah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya"...

Setelah itu ayah hanya akan menunggu kedatangan kita bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk... Dengan rambut yang memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjaga kita..

Yang Sayang Ayah silahkan share :)

Adam & Hawa & edited by FanShared

Ayah Jangan Menangis



"Ketika kamu menjadi laki-laki dewasa....
dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
AYAH harus melepasmu..
Tahukah kamu bahwa badan AYAH terasa kaku untuk memelukmu?
AYAH hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal AYAH ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang AYAH lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya,dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik nak..”
AYAH melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu,
orang pertama yang mengerutkan kening adalah AYAH .
AYAH pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta mainan baru,
dan AYAH tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut AYAH adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin AYAH , Ia sangat ingin mengatakan "Iya mas, nanti AYAH belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu AYAH merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
AYAH adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. AYAH akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat
"putra kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Taukah kamu,saat tiba waktumu merajut keluarga baru dan lepas dari tanggung jawab ayahmu,
Dia adalah orang pertama yang merasa lega bahagia dan bangga..
Dan akhirnya....
Saat AYAH melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang wanita yang di anggapnya pantas mendampingimu,
AYAH pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu AYAH pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
AYAH menangis karena AYAH sangat berbahagia, kemudian AYAH berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, AYAH berkata:
"Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putra kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi laki-laki yang sukses dan berwibawa. Bahagiakanlah ia bersama istrinya"

Setelah itu AYAH hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. AYAH telah menyelesaikan tugasnya.

AYAH kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.
bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis.
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal"

Sang Ayah dan Anaknya (Bersabarlah Anakku)





Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran…  “Ayah, ayah” kata sang anak…


“Ada apa?” tanya sang ayah…..


“aku capek, sangat capek… aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek… aku mau menyontek saja! Aku capek...sangat capek…


aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah,  sedang temanku punya pembantu,  aku ingin kita punya pembantu saja! …  aku capek, sangat capek…


aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung… aku ingin jajan terus! …


aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…


aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…


aku capek ayah, aku capek menahan diri… aku ingin seperti mereka… mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…


Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah”… sang ayah hanya diam.


Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…


“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.


“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.


” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”


” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”


” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”


” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangat indah... seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”


” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”


” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat… begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”


” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.